Sabtu, 24 Oktober 2009

Imagination can't be prison...


Di sebuah penjara ada seorang narapidana. Dia pandai melukis. Lukisannya sangat detail dan realistis sehingga terkesan benar2 riil di depan mata bagi yg melihatnya.
Pada suatu hari, narapidana tsb melukis sebuah lukisan tentang sebuah jendela. Jendela itu dilukis dalam keadaan terbuka. Karena terbuka, maka dapat dilihat pemandangan di luar tembok penjara & ada sinar matahari menerobos masuk ke ruang tahanan itu & menerangi sebagian ruang tahanan.
Sipir datang menjenguk sang narapidana. Sipir terkesima melihat sebuah jendela terbuka di ruang tahanan narapidana. Tetapi, setelah dicermati, ia menyadari bahwa jendela terbuka itu hanyalah sebuah lukisan. Namun, timbul kecurigaan di benak sipir. Apabila narapidana melukis jendela terbuka di ruang tahanan, tentu ada maksud atau motif tertentu yg tersimpan jauh di lubuk hati narapidana itu. Motif ingin kabur dari sel, misalnya. Bukankah kecurigaan itu wajar? Maka, sipir pun mengejek narapidana. Katanya, "Mau kabur, ya?"
Diejek demikian, sang narapidana pun menyahut enteng, "Lalu apa sulitnya bagiku?"
Kemudian sipir berang, "Coba saja buktikan!"
Keajaiban terjadi. Napi itu pun kabur dgn cara meloncat dari lukisan jendela terbuka itu. Sekali lagi, narapidana itu kabur dari sel melalui lukisan jendela terbuka! Ajaib, bukan?

“Imagination is more important than knowledge…”, by Albert Einstein

Anna Blandiana, penyair Rumania.
Sebuah cerpen yg dicekal oleh rezim komunis yg brkuasa & otoriter.
Diterjemahkan oleh Agus Fahri Husein & dimuat di sebuah koran mingguan.